Maulid dan Risalah Kenabian Muhammad SAW

Berakhirnya bulan Safar kaum Muslimin pun bersiap menyambut Rabiul Awal atau yang lebih dikenal dengan bulan Maulud. Bulan Maulud merupakan bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Para sejarawan dan ulama menyepakati bahwa Nabi Muhammad lahir pda senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Siti Aminah.
Sebelum Muhammad lahir, ayahnya Abdullah telah wafat  sehingga beliau diasuh oleh kakeknya yaitu Abdul Muthalib. Sedangkan yang menyusui adalah seorang perempuan bernama Halimatus Sa’diyah dan pengasuhan Nabi Muhammad kecil pun beralih ke tangan pamannya.
Kelahiran sosok Muhammad sangat identik dengan dengan kebangkitan agama ibrahimi atau samawi atau lebih tepatnya sebagai detik kebangkitan ajaran keselamatan untuk seluruh umat manusia karena beliau mendapatkan amanat sebagai seorang pembawa risalah Allah SWT. Allah mengabadikan kehadiran Nabi Muhammad sebagai rahmat dan berkah. Allah memerintahkan para malaikat untuk memberikan shalawat kepada beliau.
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56).
Risalah Kenabian Muhammad
Awalnya negeri arab merupakan negeri yang ditaklukkan oleh imperium Romawi dan Persia. Masyarakat Arab pun dikenal secara sosial sebagai msyarakat kesukuan yang gemar berperang untuk merebutkan kekuasaan wilayah tertentu. Diantara masyarakatnya juga menyembah berhala, bintang, dan benda langit lainnya. Sebagian lagi memilih agama Abrahamic seperti Yahudi dan Kristen yang mempunyai anggapan bahwa nenek moyang mereka sesat. Karena itulah Risalah kenabian Muhammad diturunkan di negeri Arab.
Kenabian Muhammad sebagai penyempurna terhadap risalah kenabian sebelumnya. Tidak hanya menjadi Nabi penyempurna tetapi juga sebagai penutup risalah kenabian. “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkan agama, dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya” (QS. Al-Syura: 13).
Ajaran persamaan manusia di hadapan Allah juga menjadi risalah yang dibawa Nabi Muhammad. Seruan Nabi Muhammad untuk memerdekakan budak juga sebagai bentuk nilai persamaan dan kebebasan manusia yang dilandaskan oleh perintah Allah di dalam Al-Qur’an “Maka hendaklah kalian mengadakan mukâtabah (seorang hamba yang meminta dimerdekakan oleh tuannya dengan cara menebus dirinya) dengan mereka jika engkau mengetahui bahwa di sana ada kebaikan..” (QS. An-Nur: 33).
Risalah keadilan juga mengantarkan Nabi Muhammad sukses membangun masyarakat Madinah yang plural hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan yang termanifestasikan kedalam Piagam Madinah. Pribadi Rasulullah antara sisi kemanusiaan dan ketuhanan ialah beliau seorang manusia biasa sebagai makhluk Allah terikat dengan hukum alamiah sebagai manusia, namun dalam kapasitasnya sebagai utusan Allah beliau merupakan pembawa risalah langit, ajaran ilahiyah yang diberikan banyak kelebihan dibanding manusia lain.
Pribadi Rasulullah yang dikagumi seperti ucapan yang halus, lembut, serta santun dan budi pekerti beliau yang mencermikan akhlak mulia sangat pantas dijadikan teladan. Terutama 4 sifat sempurna yaitu sidiq, amanah, tabligh, dan fatonah.
Sebagai umat Islam kita dapat meneladani beliau dalam kehidupan untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Mari memperbanyak Shalawat di Maulid Nabi yang tidak lain hanya mengharap Syafa’at-Nya kelak di hari akhir.

Dibaca 442 kali

Yuk sebarkan...Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponPrint this page

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>