Nilai Kekhusuyu’an dalam Shalat

Nilai Kekhusuyuan dalam Shalat

Shalat adalah ibadah wajib umat muslim yang telah menginjak akil baligh. Saat melakukan ibadah shalat seorang hamba menghadapkan diri kepada Allah SWT. Jika seseorang menjaga shalatnya dengan baik maka keadaannya di akhirat saat ia benar-benar di hadapan Allah secara langsung akan baik.

Ibnul Qayyim berkata: seorang hamba di hadapan Allah memiliki dua kondisi: pertama, di dunia. Kedua di akhirat. Jika yang pertama itu baik [yakni saat ia shalat] maka akan baik dan indah pula yang akhirat. Jika yang di sini itu buruk dan terlalaikan maka yang di akhirat akan mengikutinya. Semakin kini sebuah zaman maka kemaksiatan akan semakin tersebar dan unsur-unsur perusak hati bisa kita lihat dimanapun yang bisa saja mengendurkan kekhusyu’an shalat kita.

Abu Darda pernah berkata kepada Jubair bin Nafir: kalau kau mau, aku akan smapaikan kepadamu perihal ilmu yang pertama diangkat dari manusia: khusyu’. Hampir-hampir engkau masuk masjid jami’ tak engkau dapati di dalamnya ada orang yang khusyu’.

Sesungguhnya khusyu’ adalah bagian dari ruh shalat. Bahkan menjadi pilar utama dan batu pondasinya. Karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

أَسْرَقُ النَّاسِ الّذِي يَسْرقُ صَلَاتَهُ

“Pencuri paling buruk adalah yang mencuri shalatnya.” Ditanyakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, bagaimana ia mencuri shalatnya? Beliau menjawab: ia tak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan orang paling pelit adalah orang yang pelit dengan salam.” (HR. Ahmad. Dishahihkan Al-Albani).

Orang yang mengorupsi shalat dengan tidak menjaga kekhusyu’annya akan akan mendapatkan ancaman yang diberitakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

“Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan melihat kepada shalat hamba yang tidak menegakkan tulang rusuknya antara rukuk dan sujudnya.” (HR. Ahmad. Dishahihkan Al-Albani)

Selayaknya hati kita takut dengan ancaman ini. Apalagi kalau ditambahkan dengan hadits lain, “Sesungguhnya ada seseorang shalat selama 60 tahun namun tak satupun shalatnya diterima. Boleh jadi ia menyempurnakan rukuknya namun tak sempurnakan sujudnya. Ia sempurnakan sujudnya namun tak sempurnakan rukuknya. (Dihassankan Al-Albani)

Pernah suatu hari Bilal bin Rabbah Radhiyallhu ‘Anhu melihat laki-laki yang tak sempurnakan rukuk dan sujudnya. Kemudian beliau berkata: kalau orang ini mati niscaya ia mati bukan di atas ajaran agama Muhammad.

Karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada orang yang buruk shalatnya setelah ia mengukanginya tiga kali: “Kemudian rukuknya sehingga engkau thama’ninah rukuk, lalu angkat badanmu sehingga engkau tegak berdiri, lalu sujudlah sehingga engkau thama’ninah sujud, lalu angkat badanmu sehingga engkau sempurna duduk.”

Ini adalah shalat satu sebab yang menghilangkan kekhusyu’an, yakni tidak thama’ninah (tanek) dalam shalat.  Belum lagi berpalingnya hati dan memikirkan sesuatu di luar shalat. Ada yang saat masuk shalat teringat mobilnya, rumahnya, agenda kerjanya, dagangannya, bahkan lauk makan malamnya. Sehingga mewujudkannya perlu usaha keras dari kita.

Kekhusyu’an hati para ulama salaf sudah terlihat saat mereka mengambil air wudhu’. Hati mereka sudah sangat siap untuk menghadap Allah dan bersimpuh di hadapannya. Adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallhu ‘Anhu wajahnya terlihat pucat dan badannya gemetar sehabis berwudhu. Ditanyakan kepada beliau tentang kondisinya. Beliau menjawab, “Datang waktu amanat –shalat- yang pernah Allah tawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan sekarang aku mengembannya.”

Apabila Zainal Abidin Ali bin Husain Radhiyallhu ‘Anhum berdiri shalat maka badannya terlihat gemetar. Ditanyakan kepadanya tentang hal itu. Ia menjawab, “Tahukan kalian di depan siapa aku berdiri?”

Karenanya, Ibnu Abbas Radhiyallhu ‘Anhu berkata tentang firman Allah, “(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” beliau berkata: Mereka takut dan diam dengan tenang.

Adalah Abu Bakar al-Shiddiq Radhiyallhu ‘Anhu, orang terbaik dari umat ini setelah Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, apabila mulai shalat sebagai imam maka tak jelas bacaannya karena banyaknya menangis. Beliau adalah laki-laki yang banyak menangis yang tak kuasa nahan air matanya saat membaca Al-Qur’an.

Dalam keterangan lain, Umar bin Khathab pernah menangis sampai bercucuran air matanya saat membaca surat Yusuf pada shalat Shubuh.

Bagaimana caranya mencapai kekhusyu’an dalam shalat?

  1. Berangkat shalat lebih awal diawali dengan menyempurnakan wudhu. Berjalan dengan tenang. Mengerjakan shalat sunnah qabliyah dan membaca beberapa ayat al-qur’an.
  2. Menjauhi tempat yang menyibukkan diri dari shalat.
  3. Sebelum shalat banyak mengingat kematian sebelum shalat dan keadaan di alam kubur dan kelak akan dibangkitkan kembali untuk diminta pertanggung jawaban. Termasuk di dalamnya mengingat saat-saat dibagikan kitab catatan amal, ditimbang segala amalnya, menyeberangi shirath. Semua ini bisa membantu membangkitkan kekhusu’an dan memperbagus shalat.
  4. Membersihkan hati dari penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, dan kemaksiatan.
  5. Memahami seluruh bacaan shalat.
  6. Mengarah pandangan ke tempat sujud, dan tidak mengadahkannya ke langit atau melirik ke kanan dan kiri.

Sebetulnya masih banyak cara agar shalat kita menjadi khusyu’, tidak terbatas pada yang disebutkan dalam postingan ini. sebagiannya berupa anjuran yang bisa kita coba agar ibadah shalat kita bisa maksimal. Tidak ada maksud untuk menggurui, saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri sekaligus membagikannya kepada orang lain. Semoga bermanfaat.

Sumber: voa-islam

 

Dibaca 822 kali

Yuk sebarkan...Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponPrint this page

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>