Ishmah

Ishmah secara bahasa berarti perlindungan, pemeliharaan atau keterjagaan. Istilah ‘ishmah dipergunakan dalam ilmu kalam (teologi Islam) untuk menjelaskan bahwa seorang nabi atau rasul terpelihara dan terjaga dari kemungkinan berbuat kesalahan, terutama dalam bentuk pelanggaran terhadap syari’ah (hukum) Allah, al-hudûd, ketetapan-ketapan Allah, perintah dan larangan-Nya. Seorang nabi dan rasul yang mendapatkan ‘ishmah disebut ma’shûm, yang berarti orang yang dipelihara, dijaga atau dilindungi. Seorang nabi dan rasul adalah seorang yang ma’shûm, dalam pengertian bahwa para nabi dan rasul berada dalam lindungan, pemeliharaan, dan penjagaan Allah sehingga tertutup dari kemungkinan berbuat dosa.

Konsep ‘ishmah yang diberikan Allah kepada para nabi dan rasul, menurut kesepakatan ulama ahlus sunnah, termasuk wajib ‘aqli, yaitu wajib atau keharusan menurut logika, akal sehat dan pemikiran rasional, bahwa seorang nabi dan rasul itu ma’shûm. Tugas pokok dan fungsi seorang rasul, menurut Al-Qur`an, adalah menyampaikan ajaran Allah kepada umat dan mengajak umat mengamalkan ajaran Allah. Seorang Rasul adalah uswah hasanah, model, contoh atau teladan yang baik bagi umat dalam menerapkan ajaran Allah dalam kehidupan ini. Seorang hamba yang dipilih Allah menjadi nabi dan rasul untuk melaksanakan tugas berat tersebut sungguh masuk akal  jika mereka dilengkapi dengan ‘ishmah, yakni daya imunisasi dari kemungkinan melanggar hukum Allah.

Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menjadi orang beriman, yaitu orang yang menerima dan membenarkan  ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW atau menjadi orang yang kafir, yaitu orang yang menolak atau mengingkari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Allah berfirman: “Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir” (QS. al-Kahfi/18: 29). Jika manusia memilih beriman, Allah meridoi.Sebaliknya, jika manusia memilih kufur, Allah murka atas pilihan itu. Dengan prinsip ‘ishmah dan ma’shûm ini, bagi seorang nabi atau rasul kebebasan memilih untuk beriman atau kufur itu tidak berlaku.

Ada dua argumentasi rasional tentang keharusan nabi dan rasul mendapat ‘ishmah dan menjadi ma’shûm sebagai berikut. Pertama, bagaimana mungkin seorang nabi dan rasul menolak misi yang dibawanya sendiri sehingga menjadi orang kafir. Kedua, para nabi dan rasul itu adalah uswah bagi umat, bagaimana mungkin beliau melanggar perintah dan larangan Allah. Sebab keduanya akan menghambat tugas pokok dan fungsi kerasulan.

Dibaca 548 kali

Yuk sebarkan...Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponPrint this page
Tags:  , ,

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>